Bermain Games Online bersama 633Domino

Mantan Murid Kukentot



CERITA PANAS | Kisah ini berawal dari keberanian manta muridku, Sandi. Tampaknya sejak SD dia sudah kerap mengintip dan perhatikan tubuhku yang molek. Sebenernya cerita dewasa ini tak layak diceritakan. Tapi, apa senang dikata perbuatan itu sudah kami lakukan, dan kenikmatan itu menghendaki kami bagikan disini.

“Aarrgghhh…!!!” saya menjerit.
“Aku nyaris keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya segera cepat dan kuat. Aku tidak dapat bergoyang didalam posisi seperti itu, maka saya pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.
“Ooohhh, enak sekali…, saya keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi
“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.
“Aku sudah nyaris keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”
“Ibu termasuk senang nampak lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, saya termasuk senang keluarr!”

Namaku Asmiati, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosokku kencang, garis tubuhku nampak misalnya mengenakan busana yang ketat terutama busana senam. Aku adalah Ibu dari dua anak berusia 44 th. dan bekerja sebagai seorang guru disebuah SLTA di kota S.

Kata orang tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku sama Minati Atmanegara yang senantiasa kencang di umur yang makin menua. Mungkin mereka ada benarnya, namun saya memiliki payudara yang lebih besar supaya nampak lebih menggairahkan dibanding artis yang kedua. Semua karunia itu kudapat bersama dengan olahraga yang teratur.

Kira-kira 6 th. yang selanjutnya pas usiaku masih 38 th. keliru seorang sehabatku menitipkan anaknya yang menghendaki kuliah di tempatku, karena ia rekan baikku dan suamiku tidak keberatan kelanjutannya saya menyetujuinya. Nama pemuda itu Sandi, kulitnya kuning langsat bersama dengan tinggi 173 cm. Badannya kurus kekar karena Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini pernah menjadi muridku pas saya masih menjadi guru SD.

Sandi terlampau sopan dan tahu diri. Dia banyak menunjang pekerjaan rumah dan kerap menemani atau mengantar ke-2 anakku terkecuali menghendaki bepergian. Dalam pas sebulan saja dia sudah menyatu bersama dengan keluargaku, apalagi suamiku kerap mengajaknya main tenis bersama. Aku termasuk menjadi punya kebiasaan bersama dengan kehadirannya, mulanya saya terlampau memelihara penampilanku misalnya di depannya. Aku tidak malu ulang mengenakan busana kaos ketat yang anggota dadanya agak rendah, ulang pula Sandi menyatakan sikap yang lumrah terkecuali saya mengenakan busana yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 nampak negeri selama 2, 5 tahun. Aku terlampau berat melepasnya, karena saya bingung bagaimana menyalurkan keperluan sex-ku yang masih menggebu-gebu. Walau usiaku sudah tidak muda lagi, namun saya rutin melakukannya bersama dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang senantiasa saya jalankan, supaya kemauan tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini bersama dengan kepergiannya otomatis saya kudu mencegah diri.

Awalnya biasa saja, namun setelah 2 bulan kesepian yang terlampau terlampau menyerangku. Itu membawa dampak saya menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, meskipun jam sudah menyatakan angka 9. Karena tempo hari ke-2 anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, supaya hari ini saya menghendaki tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, saya selanjutnya tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Sandi.

Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

“Bu Asmi..?” Suaranya berbisik, saya diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa pas lengang, tiba-tiba saya tercekat disaat merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Sandi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang anggota bawah gaunku, saya lupa terkecuali saya sedang mengenakan busana tidur yang tipis, apa ulang tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, saya terus berpura-pura tertidur.

“Bu Asmi..?” Suara Sandi terdengar keras, kukira dia menghendaki memastikan apakah tidurku terlampau nyeyak atau tidak.

Aku memastikan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap seluruh sampai keleher.

Lalu kurasakan Sandi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, saya mencoba senantiasa tenang supaya pemuda itu tidak curiga. Kurasakan ulang tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke didalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali bersama dengan wajahku, namun saya percaya ia belum tahu terkecuali saya pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, saya mencoba bertahan, saya menghendaki tahu apa yang menghendaki dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian saya merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia hanya mengelus-elus, saya senantiasa diam sambil menikmati elusannya, selanjutnya saya merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, saya merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di didalam tubuhku, saya sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memastikan senantiasa diam sampai saatnya tiba.

Sekarang tangan Sandi sedang mengupayakan membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama lantas kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku menghendaki merintih nikmat namun nanti amalah membuatnya takut, menjadi kurasakan remasannya didalam diam. Kurasakan tangannya gemetar pas memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku menghendaki menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, saya terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Sandi mulai menelusuri selangkanganku, selanjutnya kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, saya tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang tahu jari-jari Sandi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, selanjutnya kurasakan tangannya menyusup masuk ke didalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, selanjutnya kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku kudu mengakhiri Sandiwaraku, saya sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Sandi!! Ngapain kamu?”

Aku mengupayakan bangun duduk, namun tangan Sandi menghimpit pundakku bersama dengan keras. Tiba-tiba Sandi mecium mulutku secepat kilat, saya mengupayakan memberontak bersama dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Sandi makin keras menghimpit pundakku, malah saat ini pemuda itu menindih tubuhku, saya ada problem bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya ulang melumat mulutku, lidahnya masuk ke didalam mulutku, namun saya pura-pura menolak.

“Bu.., maafkan saya. Sudah lama saya menghendaki merasakan ini, maafkan saya Bu… ” Sandi melepas ciumannya selanjutnya memandangku bersama dengan pandangan meminta.

“Kamu kan dapat denagan teman-teman kamu yang masih muda. Ibukan sudah tua,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila bersama dengan Bu Asmi.. Saat SD saya kerap mengintip BH yang Ibu gunakan… Saya dapat memuaskan Ibu sepuas-puasnya,” jawab Sandi.

“Ah kamu… Ya sudah terserah kamu sajalah”

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan menghendaki dijamah olehnya.

Lalu Sandi melumat bibirku dan pelan-pelan saya meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya makin membara, saya minta izin ke WC yang ada di didalam kamar tidurku. Di didalam kamar mandi, kubuka seluruh busana yang ada di tubuhku, kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi terangsang lihat tubuhku ini? Perduli terlampau yang penting saya menghendaki merasakan bagaimana sich bercinta bersama dengan remaja yang masih panas.

Keluar dari kamar mandi, Sandi persis masuk kamar. Matanya terbeliak lihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

“Body Ibu bagus banget.. ” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, ke-2 telinga, leher, sampai ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik bersama dengan ujung lidah, termasuk dikenyot-kenyot bersama dengan terlampau bernafsu.

“Ibu hebat…,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Sandi yang panjang seleher.

“Badan Ibu enggak banyak berubah dibandingkan saya SD dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

“Itu karena Ibu teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana sampai celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia selanjutnya duduk di pinggir ranjang bersama dengan ke-2 kaki mengangkang. DIbukanya sendiri busana kaosnya, pas saya berlutut mencapai batang penisnya, supaya kini kami sama-sama bugil.


                | POKER | CAPSA SUSUN | GAME ADU-Q | BANDAR-Q | BANDAR POKER |
                                                       | SAKONG ONLINE | DOMINO

Agak lama saya mencumbu kemaluannya, Sandi minta gantian, dia menghendaki mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, Ibu sudah menghendaki ngerasain penis kamu San!” Cegahku sambil menciumnya.

Sandi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya ?” godanya.

“Kamu termasuk sudah enggak kuatkan memang San,” Balasku sambil mencubit perutnya yang berotot.

Sandi tersenyum selanjutnya menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Sandi pintar sekali bercumbu. Birahiku naik makin tinggi didalam pas yang terlampau singkat. Terasa vaginaku makin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Sandi yang besar

Berbeda bersama dengan suamiku, Sandi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku sampai menelungkup, selanjutnya diciuminya ke-2 pahaku anggota belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik ulang sampai ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Sandi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan bersama dengan posisi saya membelakangi Sandi, selanjutnya diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke didalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina Ibu bagus, tebel, pasti enak ‘bercinta’ sama Ibu…,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah terlampau parau, menandakan birahinya pun sama tingginya bersama dengan aku. Aku tidak dapat bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dijalankan Sandi, sampai mulai tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat ulang membuka. Terasa nafas Sandi makin memburu, pas ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, pas yang kanan mengangkat sebelah pahaku makin tinggi. Lalu…, mulai sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia sudah memasukkan rudalnya…!!!

Sejenak saya tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Sandi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh…,” sementara lantas saya mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku segera menggerinjal-gerinjal, pas Sandi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Saann, penismu enaaak…!!!,” kataku setengah menjerit.

Sandi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, apalagi cenderung kasar. Tentu saja saya makin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh…, toloongg.., gustii…!!!”

Sandi malah makin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku makin erotis.

“Aahh, penismu…, oohh, aarrghh…, penismuu…, oohh…!!!”

Sandi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi bersama dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh bersama dengan posisi menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak ada problem menyodokkan batang kemaluannya terhadap vaginaku. Orgasmeku cepat sekali mulai dapat meledak.

“Ibu senang keluar! Ibu senang keluaaar!!” saya menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, saya juga, saya juga! Enak banget ‘bercinta’ sama Ibu!” Sandi menyodok-nyodok makin kencang.

“Sodok terus, Saann!!!… Yah, ooohhh, yahh, ugghh!!!”

“Teruuss…, arrgghh…, sshh…, ohh…, sodok terus penismuuu…!”

“Oh, ah, uuugghhh… ”

“Enaaak…, penis kamu enak, penis kamu sedap, yahhh, teruuusss…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku mencapai pantat Sandi, kuremas bongkahan pantatnya, pas paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat saya seperti melayang, tidak ingat apa-apa terkecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima th. saya tak merasakan kenikmatan seperti ini. Sandi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia melepas saya mengatur nafas, sebelum lantas dia memintaku menungging. Aku baru tahu bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Sandi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku sampai menungging. Sandi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu senantiasa menancap didalam vaginaku.

Lalu perlahan mulai dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal pasti perjalanan birahinya sudah lumayan tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Sandi bersama dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur ulang nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai mulai enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Sandi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“San.. Kamu hebat banget.. Ibu kira tadi kamu sudah nyaris keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Ibu suka terkecuali saya cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Sandi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti tahu bahwa saya mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Sandi melenguh. Diremasnya ke-2 bongkah pantatku, selanjutnya gerakannya menjadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh…, aahh…, ennaak…, penismu enak bangeett… Ssann!!”

Sandi tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak makin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik makin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali ini segera dapat mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya bersama dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan bersama dengan gerakan Sandi. Pemuda itu mulai mengerang-erang menandakan dia pun segera dapat orgasme.

Tiba-tiba Sandi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan ke-2 kakiku bersama dengan setengah mengangkatnya. Sandi segera menyodokkan ke-2 dengkulnya sampai merapat terhadap pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Sandi memegang ke-2 kakiku di bawah lutut, selanjutnya batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghhh…!!!” saya menjerit.

“Aku nyaris keluar!” Sandi bergumam. Gerakannya segera cepat dan kuat. Aku tidak dapat bergoyang didalam posisi seperti itu, maka saya pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Sandi. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuusss…!”desahku.

“Ooohhh, enak sekali…, saya keenakan…, enak ‘bercinta’ sama Ibu!” Erang Sandi

“Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu keenakaan…!” Balasku.

“Aku sudah nyaris keluar, Buu…, vagina Ibu enak bangeet… ”

“Ibu termasuk senang nampak lagi, tahan dulu! Teruss…, yaah, saya termasuk senang keluarr!”

“Ah, oh, uughhh, saya enggak tahan, saya enggak tahan, saya senang keluaaar…!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!!! Ibu enak enak, Ibu enak, Saann…, saya senang keluar, saya senang keluar, vaginaku keenakan, saya keenakan ‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…, ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!”

Tubuhku mengejang sementara pas otot vaginaku mulai berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa mencegah nikmatnya orgasme. Pada pas bersamaan, Sandi menghimpit kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohhh…!!!” dia pun menjerit, pas mulai kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di didalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme didalam pas persis seiring seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, namun kemaluan kami masih terus bertautan. Sandi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Sandi beberapa pas kemudian.

“Hmmm…” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Sandi bergerak-gerak di didalam vaginaku.

“Vagina Ibu enak banget, dapat nyedot-nyedot gitu…”

“Apalagi penis kamu…, gede, keras, dalemmm…”

Sandi bergerak menciumi saya lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, selanjutnya kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Sandi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, namun enak. Apalagi lantas lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Sandi selanjutnya menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Sandi karena kelakuannya itu membawa dampak birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Sandi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, selanjutnya berkata,

“Aku dapat enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Ibu… Ibu termasuk suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah lumayan bagi Sandi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Sandi ulang berharap jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan bersama dengan entah berapa kali saya mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku terlampau lunglai, lemas tak bertenaga.

Hampir tidak tidur sama sekali, namun saya senantiasa pergi ke sekolah. Di sekolah rasanya saya kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira saya sakit, padahal saya justru sedang happy, setelah bersetubuh sehari semalam bersama dengan bekas muridku yang perkasa 
Share on Google Plus

About TANTE BASAH 69

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar