Bermain Games Online bersama 633Domino

Permainan Sex Penyanyi Cafe yang seksi




CERITA SEX | Malam itu saya dinner bersama clientku di sebuah cafe, Sebuah band tampil menghibur pengunjung cafe bersama musik jazz, Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan bersama cukup baik. Aku memperhatikan sang penyanyi. Seorang gadis berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya sebetulnya sangat jazzy.

Gadis ini wajahnya tidak sangat cantik. Tingginya kurang lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya kira-kira 36B. Kelebihannya adalah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama band dapat menemani kamu semua. Jika tersedia yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau kalau ingin request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu merasa menyapa pengunjung Cafe. Aku cuma tertarik mendengar suaranya. Percakapan bersama client menyita perhatianku. Sampai sesudah itu telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku menyaksikan ke arah band tersebut dan menyaksikan Felicia ternyata bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati seluruh jenis musik dan berusaha mengetahui seluruh jenis musik. Termasuk jazz yang sebetulnya ‘brain music’. Musik cerdas yang memicu otakku berpikir tiap tiap mendengarnya. Felicia ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima mendapatkan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard bersama baik. Tiba-tiba saya jadi sangat tertarik bersama Felicia. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya lewat pelayan cafe tersebut.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomer HP-ku. Aku melanjutkan obrolan bersama clientku dan tak lama sesudah itu saya mendengar suara Felicia.

“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

Bahasa tubuh Felicia menyatakan bahwa dia ingin mengetahui dimana saya duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, bersama mengetahui Felicia mampu melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia merasa memainkan keyboardnya. Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, saya mengedipkan mataku. Aku kembali berkata bersama clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berpindah bersama suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.

“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”

“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin mengetahui HP-ku?”

“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku konsisten terang. Kudengar tawa enteng dari Felicia.

“Rayuan ala Boy, nih?”

“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang sebetulnya sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”

“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau bersama temanmu?”

“Oh.. dia clientku. Sebentar kembali dia pulang kok. Aku cuma mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana?”

“Okay.. Aku tunggu ya.”

“Okay.. See you soon, sexy..”

Aku melanjutkan sebentar obrolan bersama client dan sesudah itu mengantarkannya ke daerah parkir mobil. Setelah clientku pulang saya kembali ke cafe. Waktu tetap menyatakan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit saya habiskan bersama menyaksikan Felicia yang menyanyi. Mataku konsisten menatap matanya sambil sesekali saya tersenyum. Kulihat Felicia bersama percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, saya sengaja menyalakan AC mobil cukup besar agar suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia tampak menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia sambil meraih tombol AC untuk tingkatkan suhu. Tanganku langsung mencegah tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.

“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini saya baru bisa. Kalau kamu naikkan, saya tidak tahan..” alasanku.

Aku sebetulnya ingin memicu Felicia kedinginan. Kulihat Felicia mampu mengerti. Tangan kiriku tetap memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.

“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz termasuk ya?”

“Hampir seluruh musik saya suka. Oh ya, baru kali ini saya menyaksikan penyanyi jazz wanita yang mampu bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”

“Haha.. Ini malam pertama saya main keyboard sambil menyanyi.”

“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak Mengenakan scale altered dominant ya?” saya sesudah itu memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah saya bermain piano.

“What a Boy! Kamu mengetahui jazz scale juga? Kamu mampu main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.

“Yah, pernah main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Felicia.

“Tinggal bersama siapa?” tanyaku disaat kami masuk ke rumahnya. Ya, saya menerima ajakannya untuk masuk sebentar meskipun ini telah hampir jam 1 pagi

Aku kontrak rumah ini bersama sebagian temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan bersama pacarnya.”

Felicia masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Felicia sebetulnya memancingku? Aku langsung berdiri dan nekat terhubung pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri cuma bersama bra dan celana dalam. Di tangannya tersedia sebuah kaos. Kukira Felicia dapat berteriak terperanjat atau marah. Ternyata tidak. Dengan enjoy dia tersenyum.

“Maaf.. Aku senang bertanya kamar mandi dimana?” tanyaku melacak alasan. Justru saya yang gugup menyaksikan pemandangan indah di depanku.

“Di kamarku tersedia kamar mandinya kok. Masuk aja.”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya saya menyaksikan tersedia sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi jadi memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja termasuk permainanku. Tapi saya percaya Felicia dapat tertarik. Beberapa kali saya memicu kesalahan yang kusengaja. Aku ingin menyaksikan reaksi Felicia.

“Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia turut bernyanyi.

“Ajarin dong..” kataku.

Dengan langsung Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi layaknya memelukku dari belakang, dia menyatakan sekilas notasi yang benar. Aku mampu merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang wajib saya lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, bermakna dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, saya boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya senang ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku meniadakan alasanku terhubung pintu kamarnya.

“Oh ya..” saya berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi saya tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram bersama air! Biarlah. Kalau senang marah ya saya menerima saja. Yang mengetahui saya konsisten berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia jadi tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera saya menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

Felicia membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba mengimbuhkan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia termasuk terhubung kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal cuma Mengenakan celana dalam. Sambil konsisten mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya saya mampu meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya bersama jariku.

                | POKER | CAPSA SUSUN | GAME ADU-Q | BANDAR-Q | BANDAR POKER |
                                                        | SAKONG ONLINE | DOMINO

“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya merasa memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan saya merasakan penisku ereksi.

“Egh..” saya mencegah nafas disaat kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku tambah terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak mampu berbaring. Sewaktu Felicia duduk, saya cuma mampu merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak mampu kuraih. Felicia tidak senang duduk. Dia berdiri kembali dan menciumi puting dadaku!

Ternyata enak termasuk rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tak pernah melepaskan penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu bersama celana dalam, saya melepasnya dan termasuk melepaskan celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian memicu alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin memicu kami saling merapat melacak kehangatan. Ada sensasi yang tidak sama bercinta disaat dalam suasana basah. Waktu bercumbu, tersedia rasa ‘air’ yang memicu ciuman tidak sama rasanya dari biasanya.

Aku menyalakan shower dan sesudah itu di bawah air yang mengucur dari shower, kami tambah hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, muka dan seluruh tubuh, memicu tubuh kami tambah panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, waktu bibirku melumat tambah ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat enteng pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bhs tubuhnya, Felicia sangat menikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

Lidahku merasa menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya turut meremas pantatku. Aku merasakan payudara Felicia tambah tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang bersama puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya bersama genit.

“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.

“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.

“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Mulai dari ujung lidah hingga pada akhirnya bersama seluruh lidahku, saya menjilatnya. Kemudian saya menghisapnya bersama lembut, agak kuat dan pada akhirnya kuat. Tak lama sesudah itu Felicia sesudah itu terhubung kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku merasa beraksi.

Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku merasa mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia bersama terampil ikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama bersama seirama saling memberi dan beroleh kenikmatan. Vaginanya tetap rapat sekali. Mirip bersama Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta bersama perawan, kalau bersama Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya tambah keras.

“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

Rupanya Felicia adalah jenis wanita yang bersuara keras disaat bercinta. Bagiku menggembirakan termasuk mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku tambah cepat. Beberapa waktu sesudah itu saya berhenti. Mengatur nafas dan membuat perubahan posisi kami. Felicia menungging dan saya ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, sesudah itu memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.

“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tapi senantiasa bermain-main di kira-kira anusnya hingga membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.

“Aku senang nyampe, Felicia..”

“Keluarin di dalam aja. Udah lama saya tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.

“Aman, Boy. Aku tersedia obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi jaman bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok kembali bersama gencar. Felicia berteriak tambah keras.

“Yes.. Aku termasuk hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

Saat-saat itu tambah dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sesaat sesudah itu kurasakan tubuh Felicia tambah bergetar hebat. Aku berusaha keras mencegah ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.

“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit kuat sekali sesudah itu membalikkan badannya dan memelukku. Kami sesudah itu bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan sesudah itu perutnya. Aku membuatnya kegelian disaat hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil konsisten mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang saya mengangkatnya ke daerah tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Sudah lama sekali saya tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku cuma berusaha melayani tiap tiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

Aku sangat terperanjat disaat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat kembali menutupi tubuh telanjangku.

“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi saya telah dengar teriakan Felicia. Tadi jadi telah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.

“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” saya menganggukkan kepalaku padanya.

“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian saya berdiri. Dengan penis lemas terayun saya melacak kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku wajib pulang  
Share on Google Plus

About TANTE BASAH 69

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar